Catatan Metodologi — Riset Sentimen (MEMORISET)

Metode Sentimen Analisis

Pendekatan hybrid lexicon-based labeling dengan lapisan validasi machine learning, diterapkan pada data media sosial dan berita daring Bahasa Indonesia.

Ranah data: Post & komentar (X, Instagram, TikTok, Facebook, Berita, YouTube) Bahasa: Indonesia (campuran informal) Kelas sentimen: Positif / Netral / Negatif Kelas emosi: 8 kategori (Plutchik)

Alur Metodologi

Empat tahap berurutan: data mentah diproses menjadi token bersih, token dilabeli sentimen & emosi berdasarkan leksikon, lalu label tersebut divalidasi konsistensinya lewat enam algoritma klasifikasi.

01
Pra-pemrosesan Teks
Cleaning → case folding → normalisasi → tokenisasi → stopword → stemming
02
Pelabelan Sentimen
Leksikon InSet, skor berbobot per kata
03
Klasifikasi Emosi
Leksikon 8 kategori Plutchik
04
Validasi ML
TF-IDF + 6 model, SMOTE, akurasi

Kerangka Konsep (Framework)

Diagram alur kerja end-to-end — dari pengumpulan data hingga evaluasi model — mengikuti format diagram framework yang lazim dipakai pada publikasi ilmiah sejenis.

Pengumpulan Data
X · Instagram · TikTok · Facebook · Berita · YouTube
Dataset per Topik
Post & komentar, min. 20 data
Pra-pemrosesan Teks
  • Cleaning
  • Case folding
  • Normalisasi
  • Tokenisasi
  • Stopword removal
  • Stemming (Sastrawi)
Ekstraksi Leksikon
  • Leksikon InSet (sentimen)
  • Leksikon Plutchik (emosi)
Representasi Fitur
  • TF-IDF Vectorization
Fitur Final
Skor sentimen + label emosi + matriks TF-IDF
Pelatihan 6 Model ML
LR · DT · RF · SVM · KNN · NB
SMOTE & Validasi
evaluasi sebelum / sesudah
Evaluasi Model
Akurasi & Confusion Matrix

Gambar 1. Kerangka kerja (framework) pipeline Riset Sentimen. Format diagram mengikuti konvensi Figure 1 pada studi pembanding (Hadwan et al., 2022) — dengan penyesuaian isi: leksikon InSet menggantikan Bing Liu/AFINN/MPQA, tanpa tahap penerjemahan karena data sudah berbahasa Indonesia, TF-IDF tunggal menggantikan gabungan BoW+TF-IDF+Word2Vec, dan ditambah jalur klasifikasi emosi Plutchik yang tidak ada pada studi rujukan.

01

Pra-pemrosesan Teks

Sebelum dianalisis, tiap teks (judul + isi postingan/komentar) melewati enam langkah pembersihan linguistik standar, dirancang khusus untuk menangani karakteristik teks media sosial Bahasa Indonesia yang informal.

  1. Cleaning — membuang mention (@user), tagar, URL, emoji/karakter non-ASCII, angka, dan tanda baca.
  2. Case folding — menyeragamkan seluruh huruf menjadi huruf kecil.
  3. Normalisasi kata tidak baku — kata gaul/singkatan umum diubah ke bentuk baku (mis. "gak"→"tidak", "yg"→"yang").
  4. Tokenisasi — kalimat dipecah menjadi unit kata (token).
  5. Stopword removal — kata fungsi tanpa muatan sentimen (mis. "yang", "dan", "di") dibuang.
  6. Stemming — tiap kata diubah ke bentuk dasarnya menggunakan algoritma Sastrawi, pustaka stemming Bahasa Indonesia berbasis algoritma confix-stripping Nazief & Adriani (Adriani et al., 2007).
02

Pelabelan Sentimen Berbasis Leksikon

Setiap token hasil pra-pemrosesan dicocokkan terhadap kamus InSet (Indonesian Sentiment Lexicon) (Koto & Rahmaningtyas, 2017) — leksikon akademis berisi 3.609 kata berkonotasi positif dan 6.609 kata berkonotasi negatif, masing-masing dengan bobot skor numerik berkisar −5 hingga +5 (bukan sekadar daftar biner ada/tidak).

Skor sentimen dokumen d
S(d) = Σt ∈ token(d) bobot(t) ,  t ∈ kamus InSet

Skor total kemudian dipetakan ke tiga kelas berdasarkan tanda (bukan besarannya):

S(d) > 0 → Positif
S(d) = 0 → Netral
S(d) < 0 → Negatif

Karena leksikon menyimpan bobot per kata (bukan cuma keanggotaan himpunan), pendekatan ini menangkap intensitas sentimen — dua kata sama-sama "negatif" dapat menyumbang skor yang berbeda.

03

Klasifikasi Emosi — Roda Emosi Plutchik

Selain sentimen tiga-kelas, tiap dokumen juga diklasifikasi ke salah satu dari delapan emosi dasar menurut model psikoevolusioner Robert Plutchik (Plutchik, 1980), menggunakan leksikon kata kunci Bahasa Indonesia per kategori. Emosi dengan jumlah kata kunci paling banyak cocok pada dokumen itulah yang dipilih; dokumen tanpa kecocokan kata mana pun diberi label Neutral.

Joy
senang
bahagia, syukur, terimakasih
Trust
percaya
yakin, aman, sehat
Fear
takut
khawatir, cemas, bahaya
Surprise
terkejut
kaget, tiba-tiba, viral
Sadness
sedih
kecewa, gagal, duka
Disgust
jijik
korupsi, palsu, hina
Anger
marah
benci, kesal, tolak
Anticipation
antisipasi
tunggu, rencana, target
04

Evaluasi & Validasi Machine Learning

Tahap ini bukan metode pelabelan alternatif — tujuannya menguji apakah label sentimen hasil leksikon (Tahap 02) memiliki pola linguistik yang cukup konsisten untuk dipelajari dari fitur teks. Label leksikon diperlakukan sebagai ground truth, lalu enam algoritma klasifikasi dilatih untuk mereplikasinya.

Ekstraksi fitur

Teks hasil stemming diubah menjadi representasi numerik TF-IDF (Term Frequency–Inverse Document Frequency), lalu dibagi menjadi data latih dan data uji dengan rasio 80:20 secara stratified (proporsi kelas terjaga di kedua subset). Ekstraksi fitur maupun keenam algoritma klasifikasi di bawah diimplementasikan lewat scikit-learn (Pedregosa et al., 2011).

Enam algoritma dari lima keluarga berbeda

AlgoritmaKeluarga pendekatanKarakteristik
Logistic RegressionLinearBatas keputusan linear pada ruang fitur
Decision TreeBerbasis pohonAturan pemisahan bertingkat, mudah diinterpretasi
Random ForestBerbasis pohon (ensemble)Kumpulan pohon keputusan, tahan overfitting
Support Vector MachineBerbasis marginMemaksimalkan jarak antar-kelas
K-Nearest NeighborsBerbasis instansiKlasifikasi dari tetangga terdekat di ruang fitur
Naive BayesProbabilistikAsumsi independensi fitur, Bayes theorem

Pendekatan gabungan leksikon + validasi ML + SMOTE ini sejalan dengan studi sejenis terhadap opini publik layanan pemerintah di media sosial (Hadwan et al., 2022) — meski algoritma yang diuji tidak identik: studi tersebut membandingkan lima model (Random Forest, Bagging, SVM, Logistic Regression, Naive Bayes), beririsan sebagian (4 dari 6) dengan algoritma pada modul ini.

Penyeimbangan kelas — SMOTE

Distribusi label leksikon umumnya timpang (mis. dominan Netral). Untuk itu, SMOTE (Synthetic Minority Over-sampling Technique) (Chawla et al., 2002) diterapkan pada data latih — membangkitkan sampel sintetis kelas minoritas lewat interpolasi antar-tetangga, sehingga tiap kelas memiliki jumlah setara. Keenam model dievaluasi dua kali: sebelum dan sesudah SMOTE, untuk mengukur sejauh mana ketimpangan kelas memengaruhi performa.

Ukuran evaluasi

Akurasi dan confusion matrix dihitung dari data uji untuk tiap model pada kedua kondisi (sebelum/sesudah SMOTE).

Interpretasi Hasil

Akurasi tinggi pada satu atau lebih model (mis. Logistic Regression) mengindikasikan bahwa label sentimen hasil leksikon memiliki pola linguistik yang konsisten dan dapat dipelajari dari representasi teks — bukan hasil pelabelan acak. Sebaliknya, akurasi rendah pada algoritma tertentu (mis. KNN pada data berdimensi tinggi) umumnya mencerminkan keterbatasan algoritma itu pada ruang fitur TF-IDF yang jarang (sparse), bukan cacat pada label itu sendiri.

Keterbatasan Metode

⚠ Ground truth berasal dari leksikon, bukan anotasi manusia

Akurasi model ML pada tahap ini mengukur "seberapa baik model mereplikasi label leksikon dari fitur teks"bukan dibandingkan terhadap data ter-anotasi manusia secara independen. Ini konsekuensi metodologis yang lazim pada pendekatan hybrid lexicon+ML tanpa anotasi manual, dan sebaiknya dinyatakan eksplisit sebagai batasan penelitian, khususnya bila hasil ini digunakan untuk klaim validitas eksternal.

Keterbatasan lain yang relevan disebutkan: (1) leksikon InSet tidak mencakup slang/istilah baru di luar kamusnya; (2) klasifikasi emosi berbasis kata kunci tidak menangkap sarkasme atau negasi kompleks; (3) sampel data dibatasi jumlah maksimum per topik untuk menjaga waktu komputasi wajar.

Referensi